Sunday, August 17, 2014

Lebih dari Catatan Seorang Demonstran


“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan,”
Setelah menonton film dokumentasi Gie, mungkin, saya pribadi tidak akan pernah memahami seorang Gie, namun saya rasa mengenal dan sekedar mengetahui sosok Gie bisa dikatakan cukup. Pemahaman dan pandangannya yang radikal, dan juga kontroversial memang seakan akan sulit mengerti. Untuk apa, seorang Gie, keturunan Cina –yang merupakan kaum minoritas, memperjuangkan hal hal yang terkadang melampaui batas pemikiran mahasiswa pada umumnya? Belum lagi fakta bahwa semasa hidupnya, beliau hidup di era demokrasi terpimpin, dimana kekuasaan “pemerintah” begitu besar. Mengemukakan hal hal yang begitu kritis dan seakan akan menjatuhkan pemerintahan bukanlah sebuah hal yang umum. Kebanyakan golongan memilih untuk bersikap apatis, daripada ditangkap dan diasingkan, meskipun mereka pun tidak setuju dengan jalannya pemerintahan yang sewenang wenang. Namun, Soe Hok Gie memiliki jalan pikirnya sendiri.

“Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau.”
Pribadi Gie yang dapat kita ketahui dari filmnya sendiri, pribadi yang idealis sudah terlihat dari sejak ia masih duduk di bangku sekolah. Lucu, melihat seorang siswa begitu keukeuh akan pendapatnya dan berdebat dengan sang guru hanya karena masalah sepele, Chairil Anwar itu penulis atau hanya penerjemah. Gie muda yang begitu keukeuh sampai kehilangan 3 poin dari nilai ulangannya hanya karena ia dianggap tidak sopan terhadap guru. Namun, dengan berani dan gamblang pun ia katakan bahwa guru bukanlah dewa yang selalu benar, dan murid bukanlah kerbau. Guru juga harus bisa menerima kritik dari murid muridnya. Ketika sahabatnya heran akan tindakan Gie yang kalau dipikir pikir sedikit nyeleneh, Gie kecil pun menjawab bahwa kehidupan bebas yang mereka nikmati sekarang adalah hasil perlawanan para pejuang bangsa. Cara pemikiran Gie unik dan jauh dari pemikiran murid murid lainnya. Namun walaupun dikatakan tidak sopan, pemikirannya yang berani akhirnya menjadi suatu ciri khas seorang sosok Gie, yang berdiri teguh pada nilai nilai kebenaran dan kebenciannya akan ketidakadilan.

“Aku bersamamu, orang orang Malang.”
Gie bukanlah sosok yang menutup mata terhadap lingkungan di sekitarnya. Ketika ia menemui seorang pemakan kulit mangga di pinggir jalan, tanpa ragu ia pun memberikan uang yang ia punya, hanya demi membantu orang tersebut. Gie yang sadar akan kondisi pemerintahan pada masa itu pun menyatakan betapa ketidakadilan merajalela. Ketika rakyat mengais-ngais sampah hanya untuk mengisi perut, para pemimpin Negara sedang asyik berfoya foya dengan uang yang bukan hak mereka.

“Lebih baik mahasiswa yang bergerak, maka lahirlah sang demontsran.”
Semasa kuliahnya, pribadi Gie yang kritis seakan akan belum mendapatkan wadah yang tepat untuk berkembang. Kehidupan berorganisasi pada saat itu masih berbau SARA, sesuatu yang Gie hindari. Dari antara begitu banyaknya ajakan untuk ikut dalam satu organisasi tertentu, organisasi yang Gie jalankan adalah MAPALA, sesuatu yang memang menarik minatnya. Namun Gie yang dikenal sebagai sosok yang intelek banyak membagikan pandangannya akan kehidupan politik masa kini dalam berbagai diskusi, ketika ia menyatakan bahwa walaupun muda, harus tetap berani menentang ketidak adilan. “Ketika Hitler mulai membuas maka kelompok Inge School berkata tidak. Mereka (pemuda-pemuda Jerman ini) punya keberanian untuk berkata "tidak". Mereka, walaupun masih muda, telah berani menentang pemimpin-pemimpin gang-gang bajingan, rezim Nazi yang semua identik. Bahwa mereka mati, bagiku bukan soal. Mereka telah memenuhi panggilan seorang pemikir. Tidak ada indahnya (dalam arti romantik) penghukuman mereka, tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran.” Gie tetap aktif menulis dan tetap pada pendiriannya, menentang ketidakadilan. Tulisan Gie dengan ciri khasnya, yang berani, gamblang, jujur, dan penuh kritik, namun tidak membabi buta karena tulisannya berdasarkan analisis terlebih dahulu, pun pada akhirnya banyak dikenal orang sehingga pada akhirnya banyak mewarnai kolom kolom berita harian pada era itu.Tidak hanya aktif dan menulis, Gie juga ikut aktif dalam berbagai demonstrasi yang banyak dilakukan oleh mahasiswa pada masa itu untuk menggulingkan kekuasaan pemerintah.

“Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama menjadi idealis, sampai batas-batas sejauh-jauhnya”
Ketika banyak dari teman teman aktifisnya yang tergiur dengan kedudukan di parlemen dan semua harta harta tawaran pemerintah, Gie tidak tergiur dan tetap pada semangatnya untuk memperjuangkan keadilan. Sosok yang begitu teguh akan pendiriannya sendiri, dan juga sosok yang begitu benci terhadap ketidakadilan dan begitu kritisnya menyatakan pendapatnya mengenai pemerintahan. Keberanian Soe dalam bertindak, berkata, dan menulis memang kontroversial. Di satu sisi, keberanian dan ketajaman tulisannya menuai banyak pujian karena ia menyatakan dengan gamblang semua yang ia lihat dari sudut pandangnya. Namun di satu sisi, tulisannya yang terlalu tajam itu pun menuai banyak kritik dan ia pun pada akhirnya memiliki musuh. Ketika pada akhirnya tulisannya menuai banyak ancaman, Gie pun menyatakan bahwa ia mulai merasa sendiri, yang digambarkan dengan jelas dalam bagian akhir dari film Gie dimana ia pun akhirnya kembali ke lembah Mandalawangi.
Mungkin sosok seperti Soe Hok Gie bukanlah sosok yang akan mudah kita temukan dewasa ini. Seorang sosok intelektual, yang sudah menelan berbagai buku filsuf, buku sastra, dan buku referensi semenjak remaja, yang memiliki semangat yang terarah. Bukan sekedar tong kosong, namun sesuatu yang berbobot dan berlandaskan pada nilai nilai kebenaran. Kondisi bangsa kita sekarang ini pun tidak lebih baik dari era 1960an, dimana korupsi dan kesewenang wenangan masih berjamur di parlemen. Semangat dan keberanian, serta kejujuran beliau merupakan kualitas diri yang sekiranya masih dibutuhkan hingga saat ini, tidak hanya pada era 1960an.


Sosok Soe Hok Gie bukan hanya sebagai seorang demonstran, namun semangatnya dan keberaniannya seakan akan bersuara dengan lantang mengenai keadilan. Tidak hanya adu otot dengan aparat pemerintahan saat itu, sosok Soe Hok Gie juga adu otak. Menyatakan sudut pandangnya dengan analisis yang sudah ia lakukan terlebih dahulu dan bukan hanya omongan belaka yang tidak berdasar. Kegigihannya dalam memperjuangkan keadilan, dan keteguhannya pada pendirian seakan akan menampar mental apatis bangsa Indonesia dewasa ini.

No comments:

Post a Comment